Graha Tristar

D3 MANAJEMEN PERHOTELAN DAN PARIWISATA

D3 PERHOTELAN SPESIALISASI F&B PRODUCT

Implementasikan Mata Kuliah Technics Guiding & Leadership

Mahasiswa D3 Prodi Usaha Perjalanan Wisata Akpar Majapahit Apresiasi Peninggalan Sejarah Bangsa


MAHASISWAD3 Prodi Usaha Perjalanan Wisata (UPW) Akpar Majapahit yang mengikuti gelaranHistorical Surabaya City Tour (HSCT) pada Rabu (06/04/2016) pagi hingga sore hari, kali pertama adalah mengunjungi Tugu Pahlawan + Museum 10 Nopember yang berada di bawah Tugu Pahlawan. 

Setiba di area parkir Tugu Pahlawan, rombongan peserta HSCT yang terdiri dari 17 mahasiswa D3 Prodi Usaha Perjalanan Wisata (UPW) Akpar Majapahit Semester II dan IV, mendapat pengarahan singkat dari Glorian Mandagie, salah satu dari lima mahasiswa Semester VI yang dipercaya menjaditour leader HSCT. Pengarahan itu juga disaksikan dua dosen pembimbing yakni Dewi Mariana M.Par dan Drs Gatot Harjoso.

Sesuai sejarahnya, peletakan batu pertama untuk menandai pembangunan Tugu Pahlawan dilakukan langsung oleh Presiden Soekarno. Monumen Tugu Pahlawan didirikan sebagai apresiasi terhadap perjuangan heroik Arek-arek Suroboyo melawan bala tentara Sekutu yang dipimpin Inggris pada 1945 silam.

Di dinding yang mengelilingi Tugu Pahlawan, tersaji relief perjuangan heroik Arek-arek Suroboyo saat memobilisasi pasukan, bagaimana dahsyatnya pertemupuran di Surabaya, pidato monumental dari Bung Tomo menyemangati perjuangan Arek-arek Suroboyo demi mempertahankan kemerdekaan, kesigapan tim Palang Merah merawat pejuang yang terluka maupun meninggal dunia dan sebagainya.

Di pintu masuk Tugu Pahlawan yakni Gerbang Candi Bentar, pengujung disambut patung perunggu Bung Karno dan Bung Hatta yang berdiri dengan gagahnya, ketika dua orangfounding father Indonesia itu membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945 silam. Tugu Pahlawan ini dibuat untuk menghormati jasa para Pahlawan, di sisi juga terdapat makam para pejuang yang gugur dalam pertempuran 10 Nopember 1945 di Surabaya (Battle of Surabaya). 

Tugu Pahlawanadalah sebuah monumen yang menjadi markas bawah tanah Kota Surabaya. Tinggi Tugu Pahlawan ada yang mengatakan 45 yard (41,13 meter) lalu 40,50 meter, beberapa orang juga menyebutkan 41,15 meter. Berbentuk lingga atau paku terbalik. Tubuh monumen berbentuk lengkungan-lengkungan (Canalures) sebanyak 10 lengkungan yang terbagi atas 11 ruas. Tinggi, ruas, dan canalures mengandung makna tanggal 10, bulan 11, tahun 1945.

Tugu Pahlawan terletak persis di depan Kantor Gubernur Jawa Timur, dibangun di atas lahan seluas 2,5 hektare, yang dulunya adalah Kantor Raad Van Justititieatau Gedung Pengadilan Tinggi pada masa penjajahan Belanda.

Tujuan pembangunan Tugu Pahlawan adalah tak lain untuk mengenang sejarah perjuangan Arek-arek Suroboyosekaligus seluruh masayarakat Indonesia yang ikut serta dalam mempertahankan kemerdekaan dalam momen bersejarah 10 Nopember 1945 di Surabaya.

Pendiri Tugu Pahlawan
Ada dua pendapat mengenai siapa yang menjadi pemrakarsa, sekaligus arsitek monumen Tugu Pahlawan Surabaya. Menurut Gatot Barnowo, monumen ini diprakarsai oleh Doel Arnowo, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Daerah Kota Besar Surabaya. Kemudian ia meminta Ir. Tan untuk merancang gambar monumen yang dimaksud, untuk selanjutnya diajukan kepada Presiden Soekarno.

Sedangkan menurut Ir. Soendjasmono, pemrakarsa monumen ini adalah Ir. Soekarno sendiri. Ide ini mendapat perhatian khusus dari Doel Arnowo, Walikota Surabaya, saat itu. Untuk perencanaan dan gambarnya diserahkan kepada Ir. R. Soeratmoko, yang telah mengalahkan beberapa arsitektur lainnya dalam sayembara untuk pemilihan arsitek untuk membangun monumen ini.

Pada awalnya pekerjaan pembangunan Monumen Tugu Pahlawan ditangani Balai Kota Surabaya sendiri. Kemudian dilanjutkan oleh Indonesian Engineering Corporation, yang kemudian diteruskan oleh Pemborong Saroja. Monumen yang dibangun selama sepuluh bulan ini, diresmikan Presiden Soekarno pada 10 November 1952.

Perjalanan menuju ke monumen ini tidaklah sulit, karena berada tepat di tengah kota Surabaya. Pada saat pertama kali masuk ke kawasan monumen bersejarah ini, Anda akan disambut dengan gerbang Candi Bentar. 

Pada saat masuk ke dalam Museum 10 Nopember --yang diresmikan oleh Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)  ini, di lantai 1 Museum 10 Nopember ini berisi tentang diorama Bung Tomo dan rekaman Bung Tomo pada saat mengobarkan semangat juang arek arek Suroboyo. Beralih ke lantai dua yang tersimpan Diorama Statis I, II Koleksi Senjata, Koleksi Bung Tomo, Radio Bung Tomo dan Lukisan.

Puas keliling monument Tugu Pahlawan dan melihat koleksi Museum 10 Nopember, rombongan menyempatkan diri untuk foto bersama di taman seputaran Tugu Pahlawan sebelum rombongan peserta HSCT melanjutkan perjalanan mengunjungi Museum Kesehatan Jl Indrapura No. 17 Surabaya.

Unik dan Mistiknya Museum Kesehatan

Selain mendapat julukan sebagai Kota Pahlawan, Surabaya juga menyimpan banyak museum yang cukup menggiurkan untuk dikunjungi. Adalah Museum Kesehatan Dr Adyatma MPH, sebuah museum yang memiliki koleksi yang cukup unik yang berada di kota dengan sebutan Ujung Galuh pada jaman dahulu.

Adalah dr. Haryadi Suparto, seorang dokter dan juga ahli dalam bidang supranatural yang mendirikan Museum Kesehatan ini. Museum ini menempati bangunan bekas Rumah Sakit Kelamin yang dahulu merupakan rumah sakit kelamin terbesar di Asia Tenggara. Museum ini masih satu kompleks dengan Kompleks P3SKK Depkes RI dan Akademi Akupuntur Surabaya. Museum Kesehatan memiliki desain bangunan yang cukup sederhana.

Keunikan dari museum ini adalah barang-barang koleksi yang dipajang di museum. Koleksi Museum Kesehatan Dr. Adyatma MPH ini secara umum menggambarkan upaya manusia di dalam menjaga kesehatan serta alat-alat yang digunakan di dalam proses penyembuhan penyakit. Tak hanya peralatan medis saja yang dipamerkan, melainkan alat-alat non medis juga dipajang di museum ini. Alat-alat non medis yang digunakan merupakan hasil kebudayaan lokal dari beberapa suku bangsa yang menghuni negara Indonesia tercinta.
Museum Kesehatan Dr Adyatma MPH ini memiliki tiga buah ruangan yang masing-masing memiliki koleksi yang cukup unik. Di ruangan pertama diberi nama ruangan "Kesehatan Sejarah". Di bagian ruang pertama ini rombongan peserta HSCT  disambut oleh patung ganesha serta bonekajailangkung dan nini thowokyang agak menyeramkan memang.

Di ruangan ini dipamerkan beberapa barang-barang dan foto-foto yang mengggambarkan sejarah dari kesehatan medis di Indonesia, seperti tokoh-tokoh kesehatan Indonesia, ijazah dokter di sekolah kedokteran pada jaman STOVIA serta seragam yang dikenakannya, termasuk di dalamnya sejarah singkat pendirian Museum Kesehatan ini. 

Memasuki ruangan lebih ke dalam lagi, peserta HSCT disuguhi barang-barang yang digunakan dalam prakik medis. Rasanya penasaran ingin masuk lebih ke dalam lagi, tapi apa daya, rombongan merasakan hawa yang sedikit tidak mengenakkan. Walaupun tata lampu dan penerangan cukup terang, tapi peserta HSCT pun mengurungkan niat untuk menjelajah lebih dalam lagi dan memutuskan untuk keluar menuju ruangan berikutnya. Bukan bermaksud untuk menakut-nakuti, tapi alangkah lebih baik jika berkunjung ke museum ini beramai-ramai bersama teman atau rombongan.

Ruangan kedua dinamai ruangan Kesehatan IPTEK. Di ruangan ini dipamerkan beberapa inovasi alat kesehatan seperti alat untuk mensterilkan air. Ada pula beberapa benda hasil daur ulang yang berhubungan dengan kesehatan. Namun ada juga beberapa alat yang cukup aneh, seperti peralatan pemulung dan juga kotoran manusia (tinja) yang dibuat tepung.

Memasuki ruangan lebih dalam lagi Anda disuguhi dengan anatomi flora dan fauna. Bagian ini dikenal dengan sebutan sasana flora dan fauna. Di bagian ruangan ini dipamerkan beberapa flora dan fauna yang sudah diawetkan.

Beranjak menuju ruangan ketiga atau yang disebut dengan "Sasana Kesehatan Budaya". Nah, di sinilah dipamerkan barang-barang yang bersifat non-medis namun berhubungan dengan kesehatan. Banyak yang bilang jika ruangan ini menyimpan barang-barang klenik. Di ruangan ini pula ada penjelasan mengenai santet termasuk juga foto rontgen korban santet yang berisi banyak paku pada bagian dalam perutnya. Karena inilah museum ini lebih dikenal oleh orang-orang sekitar sebagai museum santet daripada Museum Kesehatan.
Ada juga kain-kain tradisional dari beberapa daerah yang bisa digunakan untuk mengusir penyakit. Ada pula beberapa jenis air yang dipercaya dapat menyembuhkan penyakit, termasuk air yang dicelupkan dengan batu ajaib milik Ponari yang sempat booming di media beberapa tahun yang lalu. Selain itu masih banyak disimpan alat-alat tradisional lainnya yang berhubungan dengan kesehatan.
Satu hal yang menarik perhatian adalah adanya kurungan ayam yang terbuat dari bilah bambu. But so far, selama berkeliling di ruang ini tidak terlalu menyeramkan seperti pada ruangan pertama. Padahal, di ruangan ini banyak disimpan barang-barang yang konon katanya berbau magis atau klenik.
Secara keseluruhan, Museum Kesehatan memang memiliki daya tarik tersendiri seiring dengan cerita seram yang hadir menyelimuti. Koleksi-koleksi yang dimiliki oleh museum ini cukup menarik, walaupun memiliki display yang sederhana. Satu hal yang perlu dijadikan catatan adalah perlu ditambah lagi keterangan pada masing-masing barang yang dipamerkan serta kegunaan dari masing-masing alat yang dimaperkan tersebut sehingga semakin menambah wawasan bagi pengunjung.
Beruntung pada saat rombongan mahasiswa Akpar Majapahit yang mengikuti program HSCT Rabu (06/04/2016) lalu,  mereka di dampingi localguide yang disediakan pihak Museum Kesehatan untuk menemani pengunjung yang ingin berkeliling di Museum Kesehatan tersebut. Ya takutnya jadi hilang deh…..! Anda ingin ke sini bersama keluarga atau teman-teman, tiketnya dijamin murah banget. Hanya dipatok Rp 1.500 per orang.
Nah, Anda tertarik dengan aneka kegiatan mahasiswa di kampus Akpar Majapahit dan ingin bergabung dengan civitas akademika Akpar Majapahit, silakan menghubungi Tim Marketing Akpar Majapahit Jl Raya Jemursari No. 244 Surabaya, Telp. (031) 8433224-25, 8480821-22, sekarang juga. (ahn)

Entri Populer