Graha Tristar

D3 MANAJEMEN PERHOTELAN DAN PARIWISATA

D3 PERHOTELAN SPESIALISASI F&B PRODUCT

Belajar Bisnis Franchise Bersama Chef Endang Sri Rahajoe.

Mahasiswa D3 Prodi Perhotelan Akpar Majapahit Gelombang III Diuji Buat Menu Franchise dan Presentasi Business Plan


SESUDAH 
jeda selama sepekan karena 14 mahasiswa D3 Prodi Perhotelan Akpar Majapahit Gelombang III Kelas Siang, harus bergabung bersama 58 mahasiswa lainnya dalam rombongan studi tur ke Bangkok (Thailand) pada 26-29 September 2017 lalu, maka agenda prensentasi business plandan ujian praktik membuat menu franchise (waralaba) baru dilaksanakan di Lab. Praktik Culinary Tristar Institute Jl. Raya Jemursari No. 234 Surabaya, Selasa (03/10/2017) siang.

Sebelum maju ujian praktik masak menu franchise dan mempresentasikan business plan-nya, mereka telah dibekali teori seputar sisik melik bisnis franchise dan praktik membuat dua resep menu franchise selama empat kali pertemuan.

Selanjutnya, pada tatap muka hari terakhir, 14-an mahasiswa D3 Prodi Perhotelan Akpar Majapahit Gelombang III diuji membuat satu menu franchise hasil kreasi mereka sendiri sekaligus mempresentasikan proposal business plan-nya di hadapan dosen penguji, chef Endang Sri Rahajoe, kemarin siang. 

Untuk memudahkan pekerjaan di dapur, 14 mahasiswa D3 Prodi Perhotelan Akpar Majapahit Gelombang III Kelas Siang tersebut dibagi dalam tiga tim masing-masing beranggotakan 4-5 orang mahasiswa. 

14 mahasiswa tersebut adalah Billy Bambang Ismanto, Laurensia Jessica, Jessica Tarunajaya, Shintya Dewi, Ferliani Mulyono, Wahyu Tri Anggara, Redy Ardiansyah, Khusni Baihaqqi R., Syafiq Umar, Dina Febrina, Arditya Bagus Santoso, Andre William K., Fadhila Maharani R dan Amelia Evita F. 

Pada ujian praktik membuat menu franchise hasil kreasinya sendiri, masing-masing tim diberi modal @ Rp 100.000,- olehchef Endang Sri Rahajoe, untuk belanja bahan dan bumbu sesuai menu masakan yang akan diolah jadi makanan yang dikemas ala franchise di Laboratorium Praktik Culinary Tristar Institute Jemursari.

Kelompok 1 yang diketuai Laurensia Jessica membuat rmakanan andalannya Monkey Cake, tampilannya seperti martabak rasanya manis dan isinya buah pisang. Saat mem-platingMonkey Cake itu dihias dengan irisan pisang, diguyur susu kental manis dan ditaburi coklat misis.

Monkey Cake hasil kreasi Kelompok 1 itu tampak elegan jika disajikan di Loyang ceper. Sajian eksotik ini terinspirasi dari hasil studi tur di Bangkok, pekan lalu,” ujar Laurensia Jessica kepada kru www.culinarynews.info, kemarin siang.

Dengan modal Rp 100.000 dari penguji, Kelompok 1 belanja bahan dan bumbu untuk memproduksi tujuh biji (ukuran @ 75-100 gram) biayanya sekitar Rp 84.000-an.  Dengan mengasumsikan keuntungan 50 persen (Rp 42.000,-) dari biaya pembelian bahan dan bumbu, maka harga per bijinya dibandrol Rp 16.000-an.  

”Biaya produksi tersebut sudah memasukkan biaya pengadaan alat seperti kompor, pisau, penggorengan, elpiji dan peralatan masak sederhana yang lainnya,” kata Laurensia Jessica di hadapan dosen penguji, ketika mempresentasikan proposalbusiness plan-nya.

Selanjutnya giliran Ferliani Mulyono, ketua Kelompok 2 yang maju untuk mempresentasikan proposal business plan-nya. Di hadapan dosen penguji, Ferliani menerangkan, dia bersama anggota Kelompok 2 yang lain all out menyiapkan resepfranchise unggulannya Manuwang Cloud Cake.

Sebelum maju presentasi, Kelompok 2 sudah bekerja mulai belanja aneka bahan baku untuk membuat cake tersebut dengan modal Rp 100.000,- yang disediakan pihak kampus hingga mengolahnya menjadi kreasi cake (produk pastry) baru yang layak untuk di-franchise-kan.

Dengan modal tersebut, Kelompok 2 mampu memproduksiManuwang Cloud Cake 16 pack per hari dengan biaya produksi sekitar Rp 64.000,- + 10 persen (diasumsikan biaya keseluruhan termasuk pengadaan alat masak sederhana), maka total biaya produksi menjadi Rp 70.400,-.

”Jika diasumsikan keuntungan usaha 20 persen dari biaya produksi = Rp 16.000,- maka harga jual Manuwang Cloud Cake per pack-nya (isi 2 buah) jatuh pada kisaran Rp 10.000-an. Manuwang Cloud Cake yang kami produksi proses pengerjaannya sekitar 60 menitan,” terang Ferliani.

Giliran Kelompok 3 yang tampil dan maju di depan kelas untuk mempresentasikan proposal business plan-nya di hadapan dosen penguji, chef Endang Sri Rahajoe. Selain presentasi, anggota Kelompok 3 juga menyiapkan mocktail (minuman non alkohol) dari hasil kombinasi buah mangga, orange juice danwhipping powder yang bisa diwaralabakan, yakni Mango & Beyond.

Dalam penyajian mocktail mangga itu agar terkesan sebagai minuman berkelas dan menyehatkan badan, maka anggota Kelompok 3 saat meracik Mango & Beyond ini menambahkannya dengan irisan buah mangga dibentuk kotak seukuran dadu, orange juicewhipping cream dan ice cubesaat disajikan dalam gelas. Segelas Mango & Beyond ini dibandrol Rp 20.000-an.

”Mengingat bahan untuk meracik mocktail ini termasuk istimewa karena menggunakan buah mangga dan orange juicedari hasil panen terbaik, wajar jika minuman ini kami bandrol Rp 20.000-an per gelasnya. Pasalnya, kami ingin membidik keuntungan bersih hingga 50 persen dari harga jualnya,” tandas Angga, sapaan akrab Wahyu Tri Anggara, ketua Kelompok 3 kepada kru www.culinarynews.info, kemarin siang.

Untuk informasi lebih lanjut seputar perkuliahan bisnisfranchise dan segala sisik meliknya, Anda bisa menghubungiTim Marketing Tristar Institute cq Akademi Pariwisata Akpar Majapahit Jl Raya Jemursari No. 244 Surabaya Telp. (031) 8433224-25, sekarang juga. (ahn) 

Entri Populer