Graha Tristar

D3 MANAJEMEN PERHOTELAN DAN PARIWISATA

D3 PERHOTELAN SPESIALISASI F&B PRODUCT

Implementasikan Mata Kuliah Technics Guiding & Leadership (2)

Mahasiswa D3 Prodi Usaha Perjalanan Wisata Akpar Majapahit Kagumi Monkasel dan Museum Surabaya


SETELAHselama paro waktumahasiswa D3 Prodi Usaha Perjalanan Wisata (UPW) Akpar Majapahit menikmati dua objek daya tarik wisata yakni Monumen Tugu Pahlawan + Museum 10 Nopember dan Museum Kesehatan, mulai pagi hingga siang hari pada gelaran Historical Surabaya City Tour (HSCT) yang dihelat Rabu (06/04/2016), sekarang waktunya istirahat selama satu jam untuk menikmati sajian makan siang (lunch) di Warung Wulan.

Lokasi Warung Wulan tersebut berada di bekas Pabrik Bir Bintang yang satu kompleks dengan Pertokoan AJBS Jl Ratna No. 1 Surabaya. Warung Wulan menyajikan menu masakan Indonesia yang dikemas ala prasmanan. Pengunjung bisa menikmati menu makanan sepuasnya tetapi hanya mengambil jatah satu piring makan, irisan buah segar dan segelas air putih, satu kali saja. Harga makanan di Warung Wulandibandrol Rp 20 ribuan per orang. 

Perjalanan bus rombongan peserta HSCT dari Museum Kesehatan Jl Indrapura, menyusuri Jl Rajawali, Jl Veteran, Jl Pahlawan, Jl Embong Malang, Jl Raya Tunjungan, Jl Gubernur Suryo, Jl Panglima Sudirman, Jl Urip Sumoharjo, Jl Dr Sutomo, Jl Dinoyo, Jl Polisi Istimewa dan bus akhirnya merapat di Jl Ratna.

Perobekan Bendera Belanda
Giliran Endang Setyawati sebagai tour guidemenjelaskan kepada rombongan bahwa di akses Jl Rajawali banyak dijumpai bangunan cagar budaya yang kini disulap menjadi perkantoran, hotel dan pusat perbelanjaan, seperti Gedung PT Perkebunan XIII, Bank BNI (dulu Gedung Internatio), Hotel Ibis, Pusat Grosir Jembatan Merah Plaza (JMP), Monumen Jayengrono, Bank Mandiri dan Jembatan Merah yang menghubungkan Jl Rajawali dengan Jl  Kembang Jepun yang dipisahkan oleh Kalimas.
Di Jl Rajawali tersebut semasa pertempuran 10 Nopember menjadi saksi bisu bagaimana dahsyatnya pertempuran Arek-arek Suroboyo melawan tentara Sekutu pimpinan Inggris. Dan yang membanggakan, mobil yang ditumpangi Brigjen Mallaby bersama ajudan dan sopirnya hancur digranat oleh pemudapejuang Merah-Putih. Peristiwa ini sangat mencengangkan dunia!
Sementara itu di sepanjang Jl Veteran, Anda bisa saksikan kantor PT Perkebunan X, Polrestabes Surabaya, Kantor Pemasaran Bersama PT Perkebunan, Gedung Pertamina, Kantor Besar Pos & Giro Kebonrojo. Di Jl Pahlawan antara lain berdiri gagah Bank Mandiri, Kompleks Surabaya Theater, Pelni, Bank Indonesia Wilayah Jatim, Kantor Gubernuran dan Tugu Pahlawan.

Bus rombongan melaju menyusui Jl Embong Malang, yang sebagian telah berubah jadi pertokoan, fasilitas komersial lainnya dan perkantoran seperti PT PLN Area Surabaya Utara. Memasuki Jl Raya Tunjungan, berdiri gagah Toko Siola yang kini disulap menjadi Museum Surabaya, Hotel Majapahit dan Gedung Pers Jatim.

”Hotel Majapahit yang semasa penjajahan Belanda dikenal dengan nama Hotel Oranje, menjadi saksi bisu peristiwa perobekan bendera oleh pemuda pejuang dariArek-arek Suroboyo dalam pertempuran  heroik 10 Nopember 1945 silam. Hotel Oranje dulunya adalah milik Meneer Sarkies bersaudara,” kata Drs Gatot Harjoso, dosen mata kuliahLeadership dan Technics Guiding, menambahkan.

Memasuki Jl Gubernur Suryo berdiri megah gedung Grahadi, yang konon dulunya adalah milik seorang saudagar kaya raya keturunan Tionghoa (China). Kemudian oleh penguasa Belanda saat itu diambil alih dan disulap menjadi kantor megah untuk menjamu tamu-tamu penting. 

Menyusuri Jl Panglima Sudirman, berdiri dengan tegak Monumen Bambu Runcing berwarna kuning yang ditengahnya mengeluarkan air mancur. Monumen tersebut untuk mengenang perjuangan Arek-arek Suroboyoyang berjuang dengan bersenjatakan Bambu Runcing.

Sesampai rombongan di Warung Wulan Jl Ratna No. 1, Endang Setyawati menjelaskan tata cara makan siang ala prasmanan. Puas menikmati sajian makan siang dan menunaikan Salat Dhuhur, rombongan melanjutkan perjalanan ke Monumen Kapal Selam (Monkasel) Surabaya di Jl Pemuda No. 39 Embong Kaliasin, Surabaya.

Monkasel Surabaya
Monumen Kapal Selam atau disingkat Monkasel yang berdiri dengan gagahnya di pinggiran Kalimas Jl Embong Kaliasin atau di sampingnya Surabaya Plaza Jl Pemuda. Kapal selam ini merupakan satu dari 12 kapal selam jenis SS dengan tipe Whiskey Class buatan Uni Sovyet, dimiliki Indonesia (TNI AL) pada  tahun 1962. Kapal selam jenis ini adalah salah satu yang terbaik pada masanya. Itu yang menyebabkan Indonesia cukup disegani pada masa itu termasuk oleh negara-negara Barat.

Monkasel di Surabaya diresmikan pada 27 Juni 1998. Nah karena terletak di pusat kota, maka Monkasel bisa dimanfaatkan menjadi sarana pendidikan yang mendidik sekaligus menghibur Anda dan putra-putri Anda. Untuk membawa kapal selam ke tengah kota Surabaya tidaklah mudah. Mula-mula kapal selam tersebut dipotong menjadi 16 bagian. Lalu dibawa ke area Monumen Kapal Selam setelah itu dirakit kembali.

 

Di area Monkasel, Anda bisa menyaksikan sebuah kapal selam yang berukuran cukup besar. Nama kapal selam ini adalah KRI Pasopati dengan nomor lambung 410. Panjang dari kapal selam ini adalah 76 meter dengan lebar 6,3 meter.

Kapal selam KRI Pasopati merupakan kapal selam berjenis SS tipe Wishkey Class. Kapal selam KRI Pasopati dibuat pada tahun 1952 dan mulai digunakan di Indonesia pada 15 Desember 1952.

Dengan penggerak diesel, kapal selam KRI Pasopati dapat menempuh kecepatan maksimum hingga 18,3 Knot (sekitar 34 km/jam). Jika di atas permukaan, kapal selam ini menggunakan penggerak diesel. Sedangkan jika sedang menyelam, kapal ini menggunakan penggerak batere.

Kapal selam ini dilengkapi 4 buah peluncur torpedo di depan dan 2 buah peluncur torpedo di belakang. Kapal ini mengangkut 12 buah torpedo dengan panjang 7 meter. Kapal ini juga mampu megangkut 63 awak kapal termasuk perwira.

Selain itu, kapal ini mampu menyelam hingga kedalaman 250 meter di bawah permukaan laut. Sedangkan kedalaman normal adalah 170 meter. Tentu dengan kemampuan seperti ini, membuat kekuatan laut Indonesia begitu perkasa pada saat itu.

KRI Pasopati bertugas pertama kali dalam Operasi Alugoro ke Irian Jaya pada 28 Juli 1962. Operasi Alugoro merupakan bagian dari Operasi Trikora untuk mengembalikan wilayah Irian Barat ke NKRI. KRI Pasopati bersama lima kapal selam Indonesia lainnya yaitu KRI Widjayadanu, KRI Hendradjala, KRI Bramasta, KRI Tjudamani dan KRI Alugoro ditugaskan untuk menenggelamkan kapal-kapal perang dan niaga musuh sepanjang pantai utara Irian Barat khususnya kapal perang Belanda.

Operasi lainnya adalah operasi di Timor Timur, Selat Malaka, Laut Cina Selatan, dan Samudera Hindia. KRI Pasopati sering berada di garis depan ketika konflik terjadi. Pada 25 Januari 1990, KRI Pasopati berhenti bertugas di TNI AL.

Pengunjung Monkasel bisa masuk ke dalam kapal selam tersebut. Semua bagiannya masih asli dan menarik untuk dilihat. Dan Anda tidak perlu merasakan panasnya di dalam kabin kapal selam, karena saat ini di setiap ruangan telah dilengkapi pendingin udara. Di dalam kapal selam KRI Pasopati dibagi menjadi tujuh ruangan. Setiap ruangan dipisahkan oleh pintu di mana ketika sedang bertempur, setiap pintu harus tertutup atau kedap. 

Museum Surabaya
Setelah puas menyaksikan video sejarah KRI Pasopati dan foto bareng di area Monkasel, rombongan melanjutkan perjalanan ke Museum Surabaya Jl Getengkali Surabaya dan Jl Tunjungan. Museum Surabaya yang diresmikan oleh Walikota Tri Rismaharini itu merupakan museum yang mengoleksi tentang sejarah yang terjadi di kota Surabaya.

Museum itu merupakan bekas pusat perbelanjaan Siola. Salah satu ruangan di kompleks museum itu sekarang juga dimanfaatkan untuk Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Surabaya yang siap melayani warga kota.

Di museum itu terpajang foto Walikota sejak jaman Belanda hingga pejabat walikota saat ini yang dipegang Tri Rismaharini sebagai walikota perempuan pertama di Surabaya, meja kerja, kursi tamu, piano peninggalan Ratu Wilhemina, lemari kayu jati berisi koleksi cangkir untuk jamuan minum teh dan kopi,  wayangn potehi, wayang kulit, busana Cak dan Ning Surabaya dan sebagainya. Pokoknya seru deh menikmati koleksi peninggalan sejarah kota Surabaya di masa lalu.

Puas melihat koleksi dan mendengarkan local guide dari Dibudpar Kota Surabaya yang mengelola Museum Surabaya, rombangan peserta HSCT memungkasi agenda turnya dengan mampir ke Terminal 2 Bandara Internasional Juanda sebelum kembali ke meeting point di Graha Pena.

"Tiada gading yang tak retak.Kalau selama melayani peserta HSCT ada kekurangan di sana sini, panitia mohon maaf yang sedalam-dalamnya. Good bye & see you tomorrow. Daaa…..,” kata Nadia Cyrilla Sari kepada para peserta tur.
 
Nah, Anda tertarik dengan aneka kegiatan mahasiswa di kampus Akpar Majapahit dan ingin bergabung dengan civitas akademika Akpar Majapahit, silakan menghubungi Tim Marketing Akpar Majapahit Jl Raya Jemursari No. 244 Surabaya, Telp. (031) 8433224-25, 8480821-22, sekarang juga. (ahn)

Entri Populer